Latar Belakang

Pendidikan merupakan sektor yang memiliki peran utama dalam membentuk SDM berkualitas dalam pembangunan sebuah bangsa. Kualitas pendidikan suatu bangsa juga menjadi salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa. Hal inilah yang menjadikan pendidikan menjadi salah satu dari tiga tujuan negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sayangnya saat ini masih terdapat berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Berbagai permasalahan tersebut seperti pendidikan yang tidak merata hingga rendahnya rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Kemendikbud pada tahun 2014 angka rata-rata lama tempuh pendidikan di Indonesia hanya 8,01 tahun atau setara SMP, sementara di Malaysia rata-rata lama pendidikan adalah 10,1 dan Jepang 11,6 tahun. Untuk angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia masih berada di angka 27% cukup jauh tertinggal dibandingkan APK Korea Selatan yang mencapai 90%. Keterbatasan sarana fisik dan mahalnya biaya pendidikan menjadi dua dari berbagai penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia (Ana, 2015).

Di Kabupaten Banyumas, semangat generasi muda untuk mendapatkan pendidikan tinggi masih kurang. Berdasarkan data sampling dibeberapa SMA diperoleh bahwa angka penyerapan kasar siswa ke perguruan tinggi hanya kurang dari 50% dari total seluruh siswa. Padahal kurikulum di SMA diperuntukan bagi siswa yang akan melanjutkan ke jenjang yang tinggi. Alasan sebagian siswa SMA tidak melanjutkan ke jenjang yang tinggi yaitu karena permasalahan ekonomi. Mereka masih memiliki anggapan bahwa “perguruan tinggi itu mahal, hanya anak pejabat dan pegawai yang bisa belajar di bangku kuliah, perguruan tinggi masih sangat tidak terjangkau oleh masyarakat kecil”. Padahal pemerintah telah memberikan 20% APBN untuk sektor pendidikan yang dialokasikan dalam bentuk berbagai program, termasuk Bidikmisi yang merupakan beasiswa penuh di perguruan tinggi bagi mahasiswa kurang mampu berprestasi.

Dengan melihat kondisi tersebut, kami GAMAS ITB 2012 berinisiasi untuk turut berkontribusi menyelesaikan permasalahan pendidikan di Banyumas. Berawal dari pertemuan perdana di Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada 22 Januari 2017 dibentuklah GAMAS FOUNDATION sebagai bentuk kepedulian kami terhadap daerah kelahiran. GAMAS FOUNDATION merupakan bentuk tanggung jawab kami terhadap negara setelah menyelesaikan pendidikan di ITB dengan subsidi dari uang pajak baik penuh maupun sebagian. Langkah awal GAMAS FOUNDATION nantinya akan fokus dalam pembiayaan pengembangan pendidikan di Kabupaten Banyumas dengan memberikan beasiswa kepada siswa SMA kurang mampu dan berprestasi serta Learning Camp yang merupakan program sosial GAMAS ITB.